Rabu, 11 Oktober 2017

Harta Karun Di Bulan Oktober

Assalamu'alaikum Sobat Swahyuni semua? Apa kabar? Tentu stabil-stabil aja, kan? Udah … tidak perlu dijawab, enggak dengar juga akunya.

Sobat Swahyuni yang sejujurnya … emm aku rindukan, (Modus!) aku memiliki sesuatu untuk kalian. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya. Pernahkah Sobat mendengar, seseorang berkata, "Sejauh apa pun kaki melangkah, pada akhirnya akan kembali ke rumah." Jika pernah, apa Sobat tahu? Bahwa itu benar!

Aku contohnya; setelah beratus-ratus tahun lamanya mengembara di alam mimpi, meninggalkan gubuk berwarna yang jarang tersentuh oleh makhluk planet bumi. Kini aku pun memutuskan untuk kembali. (Bahasa gue alay bener, yak)

Menghiasi gubuk ini dengan kisah-kisah baru yang tentunya akan membuat setiap ekor makhluk planet bumi menjadi memangsa kutu, jika berani kepo dengan kisah yang terpampang disetiap sudut gubuk berwana ini. Karena apa? Karena hampir 99%, sudah dipastikan. Setiap kalimat yang terkandung dalam semua kisah itu … absurd, sulit dipahami. Sesulit apa? Sesulit memahami wanita. (Eaaa! makin ngelantur)

Dan, untuk mengawali perjumpaan kita, seperti yang tadi sudah dikatakan, aku memiliki sesuatu untuk Sobat Swahyuni semua. Sesuatu itu adalah … sebuah harta karun. Yang pastinya, harta karun itu sudah siap Sobat Swahyuni bawa pulang.

Oke, berhubung kalau kepanjangan pidatonya aku jadi suka ngantuk, langsung saja. Inilah harta karun tersebut.

Sepaket novelet + free pouch hanya Rp 100.000. Keren kan Sobat? Pasti dong, ya? Hari biasa lebih lhoh, dari 100.000. So, mumpung masih ada waktu, segera aja diambil. Open pree order hanya sampai tanggal 14 oktober, atau … sebelumnya Sobat ingin berkenalan dulu dengan sepaket novelet di atas? Baiklah, jika itu mau Sobat akan kupenuhi. Di bawah ini adalah sinopsis plus sedikit tentang penulisnya.

Judul : Mata Ketiga
Penulis : Muhajjah Saratini. Tinggal di Yogyakarta, editor Diva Press, dan juara pertama lomba novelet di Loka Media.

Sinopsis: Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana. Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini? Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia? Aku tidak mengerti. Belum.

Judul : Renjana
Penulis : Tiqom Tarra. Penulis muda asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang hampir bisa menguasai seluruh genre penulisan. Dari cerita anak, novel sampai cerpen.

Sinopsis: Suri, kau ingat di kehidupan sebelumnya? Kau adalah adik sekaligus kekasihku. Entah adat atau norma apa yang orang-orang biacakan. Mereka mengatakan kita tidak boleh bersama. Para dewa akan mengutuk kita. Untuk memisahkan kita, otou-san mengirimku ke ;Hindia Belanda, hingga kabar tentang kematianmu di Hiroshima karena bom atom membuatku memilih bunuh diri dengan melakukan harakiri. Aku bersumpah akan membawa janji dan cinta ini hingga mati. Jika bukan di kehidupan sekarang, mungkin di kehidupan yang akan datang, kita akan bersatu. Jika aku bisa terlahir kembali dengan sosok yang berbeda, aku ingin menjadi sebatang pohon. Kau bisa datang kapan saja untuk memelukku, baik ketika sedih maupun senang. Aku akan berada di tempat yang sama agar kau tidak perlu mencariku.

Judul : Smart Kokila
Penulis : Reffi Dhinar

Sinopsis: Kokila adalah kumbang banteng yang bisa mengerti bahasa manusia. Suatu hari ia bertemu dengan anak manusia dan mereka pun menjadi sahabat. Namun, Jim akhirnya pindah ke kota dan meninggalkan Kokila sendiri. Kokila juga tinggal di dalam hutan menyendiri. Ia hanya bersahabat dengan Lum—si burung parkit dan Frogi—si katak muda. Kokila mengasingkan diri karena pernah ada kejadian memalukan yang membuat kecerdasannya menjadi bahan ejekan bangsa Kumbang. Beberapa tahun kemudian, Jim dan keluarganya kembali ke desa. Rupanya bagian desa dan wilayah selatan Hutan Lindung akan dijadikan resort. Raja Kumbang tak mau wilayah kerajaannya dirusak manusia dan bersikeras melakukan pemberontakan. Kokila menolak. Ia tak mau jika bangsa Kumbang malah menjadi korban. Namun, Raja Kumbang tidak mengindahkan nasehat Kokila. Berhasilkah Kokila menyelamatkan bangsa Kumbang?

Oke, cukup perkenalannya. Sekarang waktunya Sobat menjemput harta karun itu di tanganku. Caranya gampang … tinggal hubungi saja number WhatsApp di 083898857231, atau bisa juga via faceboook. Alamatnya lihat saja, ada di bagian bawah blog ini.

Baiklah, sebelum mendapat demo dari Sobat Swahyuni, untuk sementara aku sudahi dulu perjumpaan kita kali ini. Sampai jumpa Sobat. Aku tunggu kehadiran kalian untuk menjemput harta karunmu.

Wasalam

Rabu, 12 Juli 2017

Surat Rindu Dan Sayang Untuk Ayah

Assalamu'alaikum Ayah …

Ayah, apa kabar di sana?
Semoga sehat dan bahagia selalu, yah!
Aku rindu sekali dengan, Ayah.
Rindu suara Ayah yang selalu menyapaku di pagi hari.
Rindu hangatnya pelukan Ayah sebelum kumasuki alam mimpi.
Dan rindu sosok Ayah untuk hadir di sini.

Ayah! Mengapa Ayah menjauhiku?
Apa Ayah tidak sayang lagi denganku?
Atau … Ayah tidak ingat lagi denganku?
Walau hanya sekedar di sela waktu Ayah, mungkin.
Seperti diamku yang pasti mengurai memori tentang Ayah.

Ayah tahu….
Di sini, selepas kepergian Ayah, tak henti-hentinya setiap potret mengingatkanku akan Ayah.

Mulai dari bau asap knalpot dari motor tetangga.
Asap rokok yang tanpa permisi menyentuh penciumanku.
Sampai, seorang anak yang sedang asyik bercengkrama bersama ayahnya.

Jujur! Setiap kali melihat mereka itu, membuat hatiku iri.
Anakmu ini tidak salah kan, Yah? jika merasakan iri.
Mengingat, betapa dahulu aku tak bisa jauh dari Ayah. Tapi kini….
mm selama lebih dari dua belas tahun, ku jalanin hariku tanpa Ayah.
Bukankah itu suatu hal yang wajar, bila rasa iri itu datang?

Apa lagi setiap melihat mereka juga membuat rasa rinduku seolah semakin menajam, dan teringat saat dulu Ayah mengajariku bernyanyi untuk sekadar mengisi waktu malamku.
Atau menggendongku ke rumah tetangga, agar aku yang selalu diam di dalam rumah tidak merasa bosan dan kesepian karena tak miliki kawan.
Aku rindu semua itu, Ayah!
Aku ingin seperti mereka!
Aku ingin bisa seperti dulu.
Walaupun aku tahu … rasanya tidak mungkin sepenuhnya dapat kembali seperti dulu, setelah terputusnya  janji suci antara Ayah dan Ibu.

Aku selalu berandai-andai.
Coba saja … aku memiliki mesin pemutar waktu, atau satu kali kesempatan untuk kembali ke masa lalu.
Aku ingin kembali ke masa kecilku dulu.
Masa yang menjadi  catatan  bersejarah yang paling indah dalam hidupku.

Di mana kala itu … Wahyu kecil tengah memeragakan gaya tokoh kartun kesukaannya. Sedang kan Ayah dan Ibu memperhatikan dengan senyuman yang tak pernah beranjak dari bibir tebal kemerahan.
Dulu itu terasa biasa saja, tapi kini saat itulah yang sangat aku nantikan.

Jujur Ayah, sesungguhnya aku tidak mengerti, mengapa kini terbentang jarak di antara kita.
Bahkan … karena ketidak mengertianku, terkadang aku sampai berpikir, 'Aku tahu, aku berbeda. Aku paham, aku tidak cukup mampu untuk membuat ayah bangga. Tapi … apa itu membuatku tidak berhak merasakan kasih sayang dari seorang ayah?
Apa itu adalah alasan yang cukup kuat untukku di-abaikan?
Walau sesungguhnya hanya sedikit yang kubutuhkan.'

Iyah! begitulah, Yah.
Pada akhirnya, kekurangankulah yang kembali aku pertanyakan, karena semua pertanyaan tidak menemukan jawaban.

Namun Ayah tenang saja, walau begitu besar rindu yang aku pendam.
Putrimu ini sudah cukup kuat untuk menghadapi dunia tetap dengan senyuman, tanpa Ayah sendiri yang mengajariku akan ketabahan.
Ayah, yang berbahagia saja di sana, bersama keluarga kecil Ayah yang baru.

Oh, iya, Yah! Kalau boleh … aku ingin menitip salam untuk mereka, terutama untuk istri Ayah, ibu tiriku.
Tolong katakan kepapanya.
Tenangkan hatinya, anakmu ini bukan pencuri.
Aku hanyalah gadis berfisik lemah yang masih memerlukan genggaman tangan ayah.
Atau mungkin … jika ayah ragu untuk menyampaikannya, suatu hari nanti Ayah bisa mengajaknya sewaktu mengunjungiku.
Biar aku saja sendiri yang bicara kepanyanya, sekalian juga aku ingin meminta izin  agar dia bersedia membagi sedikit waktu Ayah denganku.
Tentunya dengan Ayah yang memperbolehkan aku bicara kepadanya, sebelumnya.

Emmm nampaknya di surat ini aku sudah terlalu banyak bicara.
Sudah dulu iya, Yah.
Sampai jumpa nanti, entah kapan itu. Ayah, baik-baik di sana dan jaga kesehatan juga.
Wahyu sayang, Ayah.
Kapanpun, dan di mana pun Wahyu berada, Wahyu akan selalu mengingat Ayah. Selamanya!

Wasalam

Senin, 15 Mei 2017

Penggalan Puisi Wahyu

TINGGAL KATA

Bergetar, serta sungguh bagai tersambar
tulus rasaku yang selama ini terus berkobar
Ketika badai yang hadir dianggap benar,
dan aku yang kalah dianggap pintar

Mana mungkin segumpal darah yang telah terpadu Kuat Terlepas dan menjelma menjadi pisau berkarat yang berhianat
Sedangkan hasrat atau niat tak pernah sedikit pun tersirat

Kini sahabat tinggallah kalimat
Indah kenangan tinggalah kenangan yang hanya bisa diingat
Semua kisah telah benar tamat
karena kepercayaan hanyalah terucap tidak menancap.

BERKIBARLAH

Merah putih berkibarlah selalu
di tengah keras nya bangsamu
Jangan pernah mecoba berlalu
apa lagi merasa malu
Berkibarlah!! berkibarlah tanpa ragu
Hingga runtuhnya langit biru.

KAU YANG PENDUSTA

Di tengah keheningan negara kau datang tanpa dipinta
Tawarkan jasa dan janji setia tuk meraih rasa percaya
Tapi dalam diam kau berdusta
Sampai hati menjajah saudara sebangsa
Sungguh … kaulah bencana yang bertopengkan kesatria.

SENI

Ketikaku tak bisa melihat luas dunia,
kau tunjukan segala warna
Di saat gelisah tak mampu bicara,
kau gapai jemari tuk merangkai kata
Dan bilaku mulai lelah dengan sepi yang menyiksa,
kau gerakan hati tuk ciptakan nada
Bersamamu hariku berlalu tanpa terasa
Bersamamu kumampu tersenyum gembira
Seni … engkaulah sumber bahagia.

PESONA MALAM

Menatap jauh kelur sana
malam terlihat indah berwarna
nuansa tenang sejukkan jiwa
teramat beda dengan ruang bertembok batu bata
Akankah esokku yang tak sempurna dapat pijakkan kaki di tengah kerlap-kerlip lampu kota
dan terdiam bahagia di bawah bintang yang bercahaya
Atau Memang akan selamanya hanya bisa terpesona di balik jendela kaca

TERSESAT

Mau malam bercahayakan rembulan atau siang yang mengambil peran
Panjang jalan beralas keresahan
Inilah diriku yang tak miliki kepastian
bagai hanyut terbawa ombak lautan
Terombang-ambing tak karuan
hanya terus mengalir dan terus mengalir ikuti arus air yang kebiruan

Ingin rasanya kukembali ke daratan
Berdiri tegak dalam lingkaran kebenaran namun apalah daya ombak terlalu kuat untuk menjadi penghalang
hinggaku tak Tahu cara kembali pulang.

JIWA YANG LENGAH

Engkau jiwa yang lengah
Coba renungkan waktu yang tiada henti ajakmu melangkah
Tidakkah kau lihat
Betapa kau begitu lemah
Tidakkah kau lihat
Betapa kau begitu mudahnya kalah,
setiap waktu terlewati tanpa langkah yang terarah

Engkau jiwa yang lengah
Coba tanyakanlah pada rasa yang resah
Sampai kapan … sampai kapan kau akan pasrah
Terpaku oleh ketenangan yang mengecoh
Tanpa berontak, mencoba nikmatnya lelah

Engkau jiwa yang lengah
Tak sadarkah kau, langkah yang tak mudah adalah sejarah dan masa depan yang indah.

SAAT KEMBALI

Merdu takbir telah berkumandang
Tanda suci kembali menghilang
Bebaskan insan dari pertahanan
Memberi ruang pada kemenangan dan biarkan lisan saling saut-sautan
Menghapus khilaf yang bertaburan di setiap pertemuan.

Memahami

Terkadang … seorang insan larut dalam suasana yang begitu mudah berganti.
Larut tanpa menyadari, bila kisah ini ada datang, ada pergi.
Ada suka, ada benci.
Ada pertikaian, ada pula perdamaian,
dan ada bahagia, ada pula derita.
Semua telah menjadi bagian dalam cerita, dan harusnya siapa pun itu mampu memahami segala yang ada.

Dibenci, dicaci serta dihindari adalah suatuhal yang sudah biasa.
Ke mana pun niat hati menghindarinya, pasti akan berjumpa.
Namun bukan hanya itu pemahaman yang utama, tapi masih ada juga yang lainnya.

Seperti bagaimana caranya agar jiwa raga ini tetap dapat bertahan, berdiri tegak menebarkan cinta di tengah kerasnya dunia.

Adakah

Siapakah yang tahu usia setiap hamba?
Kemarin kita saksikan ia persembahkan doa untuk mereka-mereka yang tutup usia, tapi hari ini … kita temui ia sudah tiada.
Bila seperti itu ada nya, ada kah alasan untuk menunda waktu bersama??
'Wlau hanya sedetik saja'
Adakah halangan untuk menggapai jemari nya??
'Walau tak lama'
Dan ada kah hambatan untuk ungkap kan cinta??
'Biar hanya sepatah kata.'
Coba tanya kanlah kepada hati yang tak bernoda!!
Tiada yang tahu hembusan napas esok atau lusa.
Masih sampaikah ciptakan kesempatan kedua atau pun ketiga??
Meski tak pasti itulah yang ada.