Rabu, 12 Juli 2017

Surat Rindu Dan Sayang Untuk Ayah

Assalamu'alaikum Ayah …

Ayah, apa kabar di sana?
Semoga sehat dan bahagia selalu, iyah!
Aku rindu sekali dengan, Ayah.
Rindu suara Ayah yang selalu menyapaku di pagi hari …
Rindu hangatnya pelukan Ayah sebelum ku masuki alam mimpi …
Dan rindu sosok Ayah untuk hadir di sini.

Ayah! Mengapa Ayah menjauhiku?
Apa Ayah tidak sayang lagi denganku?
Atau … Ayah tidak ingat lagi denganku?
Walau hanya sekedar di sela waktu Ayah, mungkin.
Seperti diamku yang pasti mengurai memori tentang Ayah.

Ayah tahu …
Di sini, selepas kepergian Ayah, tak henti-hentinya setiap potret mengingatkanku akan Ayah.
Mulai dari bau asap knalpot dari motor tetangga …
Asap rokok yang tanpa permisi menyentuh penciumanku …
Sampai, seorang anak yang sedang asyik bercengkrama bersama ayahnya.

Jujur! Setiap kali melihat mereka itu, membuat hatiku iri.
Anakmu ini tidak salah kan, Yah? jika merasakan iri.
Mengingat, betapa dahulu aku tak bisa jauh dari Ayah. Tapi kini …
Hmm selama lebih dari dua belas tahun, ku jalanin hariku tanpa Ayah.
Bukankah itu suatu hal yang wajar, bila rasa iri itu datang?

Apa lagi setiap melihat mereka juga membuat rasa rinduku seolah semakin menajam, dan teringat saat dulu Ayah mengajariku bernyanyi untuk sekedar mengisi waktu malamku.
Atau menggendongku ke rumah tetangga, agar aku yang selalu diam di dalam rumah tidak merasa bosan dan kesepian karena tak miliki kawan.
Aku rindu semua itu, Ayah!
Aku ingin seperti mereka!
Aku ingin bisa seperti dulu.
Walaupun aku tahu …
rasanya tidak mungkin sepenuhnya dapat kembali seperti dulu setelah terputusnya  janji suci antara Ayah dan Ibu.

Aku selalu berandai-andai.
Coba saja … aku memiliki mesin pemutar waktu, atau satu kali kesempatan untuk kembali ke masa lalu.
Aku ingin kembali ke masa kecilku dulu.
Masa yang menjadi  catatan  bersejarah yang paling indah dalam hidupku.

Di mana kala itu …
Wahyu kecil tengah memeragakan gaya tokoh kartun kesukaannya. Sedang kan Ayah dan Ibu memperhatikan dengan senyuman yang tak pernah beranjak dari bibir tebal kemerahan.
Dulu itu terasa biasa saja, tapi kini saat itulah yang sangat aku nantikan.

Jujur Ayah …
Sesungguhnya aku tidak mengerti, mengapa kini terbentang jarak di antara kita.
Bahkan … karena ketidak mengertianku, terkadang aku sampai berpikir …
'Aku tahu, aku berbeda. Aku paham, aku tidak cukup mampu untuk membuat ayah bangga.
Tapi … apa itu membuatku tidak berhak merasakan kasih sayang dari seorang ayah?
Apa itu adalah alasan yang cukup kuat untukku di-abaikan?
Walau sesungguhnya hanya sedikit yang ku butuhkan.'
Iyah! begitulah, Yah …
Pada akhirnya, kekurangankulah yang kembali aku pertanyakan, karena semua pertanyaan tidak menemukan jawaban.

Namun Ayah tenang saja …
Walau begitu besar rindu yang aku pendam.
Putrimu ini sudah cukup kuat untuk menghadapi dunia tetap dengan senyuman, tanpa Ayah sendiri yang mengajariku akan ketabahan.
Ayah, yang berbahagia saja di sana, bersama keluarga kecil Ayah yang baru.

Oh, iya, Yah! Kalau boleh …
aku ingin menitip salam untuk mereka, terutama untuk istri Ayah-Ibu tiriku.
Tolong katakan kepapanya …
Tenangkan hatinya, anakmu ini bukan pencuri.
Aku hanyalah gadis berfisik lemah yang masih memerlukan genggaman tangan ayah.
Atau mungkin …
jika ayah ragu untuk menyampaikannya, suatu hari nanti Ayah bisa mengajaknya sewaktu mengunjungiku.
Biar aku saja sendiri yang bicara kepanyanya, sekalian juga aku ingin meminta izin  agar dia bersedia membagi sedikit waktu Ayah denganku.
Tentunya dengan Ayah yang memperboleh aku bicara kepadanya, sebelumnya.

Emmm nampaknya di surat ini aku sudah terlalu banyak bicara.
Sudah dulu iya, Yah.
Sampai jumpa nanti, entah kapan itu. Ayah, baik-baik di sana dan jaga kesehatan juga.
Wahyu sayang, Ayah …
Kapanpun, dan di mana pun Wahyu berada, Wahyu akan selalu mengingat Ayah. Selamanya!!!

Wasalam

Senin, 15 Mei 2017

Penggalan Puisi Wahyu

TINGGAL KATA

Bergetar, serta sungguh bagai tersambar
tulus rasaku yang selama ini terus berkobar
Ketika badai yang hadir dianggap benar,
dan aku yang kalah dianggap pintar

Mana mungkin segumpal darah yang telah terpadu Kuat Terlepas dan menjelma menjadi pisau berkarat yang berhianat
Sedangkan hasrat atau niat tak pernah sedikit pun tersirat

Kini sahabat tinggallah kalimat
Indah kenangan tinggalah kenangan yang hanya bisa diingat
Semua kisah telah benar tamat
karena kepercayaan hanyalah terucap tidak menancap.

BERKIBARLAH

Merah putih berkibarlah selalu
di tengah keras nya bangsamu
Jangan pernah mecoba berlalu
apa lagi merasa malu
Berkibarlah!! berkibarlah tanpa ragu
Hingga runtuhnya langit biru.

KAU YANG PENDUSTA

Di tengah keheningan negara kau datang tanpa dipinta
Tawarkan jasa dan janji setia tuk meraih rasa percaya
Tapi Dalam Diam Kau Berdusta
Sampai hati menjajah saudara sebangsa
Sungguh … kaulah bencana yang bertopengkan kesatria.

SENI

Ketikaku tak bisa melihat luas dunia,
kau tunjukan segala warna
Di saat gelisah tak mampu bicara,
kau gapai jemari tuk merangkai kata
Dan bilaku mulai lelah dengan sepi yang menyiksa,
kau gerakan hati tuk ciptakan nada
Bersamamu hariku berlalu tanpa terasa
Bersamamu kumampu tersenyum gembira
Seni … engkaulah sumber bahagia.

PESONA MALAM

Menatap jauh kelur sana
malam terlihat indah berwarna
nuansa tenang sejukkan jiwa
teramat beda dengan ruang bertembok batu bata
Akankah esokku yang tak sempurna dapat pijakkan kaki di tengah kerlap-kerlip lampu kota??
dan terdiam bahagia di bawah bintang yang bercahaya??
Atau Memang akan selamanya hanya bisa terpesona di balik jendela kaca??

TERSESAT

Mau malam bercahayakan rembulan atau siang yang mengambil peran
Panjang jalan beralas keresahan
Inilah diriku yang tak miliki kepastian,
bagai hanyut terbawa ombak lautan
Terombang-ambing tak karuan
hanya terus mengalir dan terus mengalir ikuti arus air yang kebiruan

Ingin rasanya ku kembali alam.
Berdiri tegak dalam lingkaran kebenaran, namun apalah daya ombak terlalu kuat untuk menjadi penghalang
hinggaku tak Tahu cara kembali pulang.

JIWA YANG LENGAH

Engkau jiwa yang lengah!!
Coba renungkan waktu yang tiada henti ajakmu melangkah
Tidakkah kau lihat?
Betapa kau begitu lemah
Tidakkah kau lihat?
Betapa kau begitu mudahnya kalah,
setiap waktu terlewati tanpa langkah yang terarah

Engkau jiwa yang lengah!!
Coba tanyakanlah pada rasa yang resah
Sampai kapan? sampai kapan kau akan pasrah?
Terpaku oleh ketenangan yang mengecoh
Tanpa berontak, mencoba nikmatnya lelah

Engkau jiwa yang lengah!!
Tak sadarkah kau? langkah yang tak mudah adalah sejarah dan masa depan yang indah.

SAAT KEMBALI

Merdu takbir telah berkumandang
Tanda suci kembali menghilang
Bebaskan insan dari pertahanan
Memberi ruang pada kemenangan dan biarkan lisan saling saut-sautan
Menghapus khilaf yang bertaburan di setiap pertemuan.

Memahami

Terkadang seorang insan larut dalam suasana yang begitu mudah berganti.
Larut tanpa menyadari, bila kisah ini ada datang, ada pergi.
Ada suka, ada benci.
Ada pertikaian, ada pula perdamaian,
dan ada bahagia, ada pula derita.
Semua telah menjadi bagian dalam cerita, dan harusnya siapa pun itu mampu memahami segala yang ada.
Di benci, di caci serta di hindari adalah suatuhal yang sudah biasa.
Ke mana pun niat hati menghindarinya, pasti akan berjumpa.
Namun bukan hanya itu pemahaman yang utama, tapi masih ada juga yang lainnya.

Seperti bagaimana caranya agar jiwa raga ini tetap dapat bertahan, berdiri tegak menebarkan cinta di tengah kerasnya dunia.

Adakah

Siapakah yang tahu usia setiap hamba?
Kemarin kita saksikan ia persembahkan doa untuk mereka-mereka yang tutup usia, tapi hari ini … kita temui ia sudah tiada.
Bila seperti itu ada nya, ada kah alasan untuk menunda waktu bersama??
'Wlau hanya sedetik saja'
Adakah halangan untuk menggapai jemari nya??
'Walau tak lama'
Dan ada kah hambatan untuk ungkap kan cinta??
'Biar hanya sepatah kata.'
Coba tanya kanlah kepada hati yang tak bernoda!!
Tiada yang tahu hembusan napas esok atau lusa.
Masih sampaikah ciptakan kesempatan kedua atau pun ketiga??
Meski tak pasti itulah yang ada.

Penulis Yang Sukses

Penulis yang sukses itu bukan penulis yang banyak dikenal orang atau menghasilkan Sesuatu dari tulisannya, tapi penulis yang sukses itu, ketika karyanya telah mampu membuat pembaca menjadi terbawa kedalam alur cerita dan teringat seusai membaca.